Senin, 11 Juli 2011

Filosofi Hidup Lebah

Suatu ketika ada seorang kakek tengah berjalan di tengah hutan, karena keletihan sang kakek kemudian berhenti di bawah sebuah pohon besar. Dari kejauhan ia mendengar sebuah teriakan meminta tolong, sang kakek tenang dan mencoba memperjelas arah suara teriakan tersebut. Ternyata suara itu berasal dari pinggir sungai yang berada beberapa meter di sebelah kanannya. Sang kakek pun bergegas, sesampainya di pinggir sungai, ia mendapati seorang anak muda yang tengah ketakutan karena di dekatnya seekor induk lebah tengah bersiap untuk menyerang anak muda tersebut. Sang kakek bertanya "Anak muda, mengapa kamu ketakutan seperti itu?", "Lihat di sana kek, induk lebah itu hendak menyerangku", kata anak muda. "Hai induk lebah, kenapa kamu mau menyerang anak muda ini, apa yang telah ia perbuat kepadamu?", tanya sang kakek kepada induk lebah. "Kakek, anak muda ini telah mengganggu saya dan anak - anak saya, ia hendak merusak sarang saya, padahal sarang ini akan saya gunakan untuk bertelur". "Jadi wajar kalau saya menyerangnya", jawab induk lebah.

Mendengar jawaban induk lebah, sang kakek sejenak terdiam, kemudian berkata kepada anak muda tersebut, "Anak muda, mengapa kamu ingin merusak sarang lebah ini? sedangkan dia sendiri tidak mengganggu kamu?". Anak muda tersebut terdiam dan tidak dapat berkata mendengar pertanyaan dari sang kakek.

Hingga akhirnya, karena bantuan dari sang kakek dan kebijaksanaan dari induk lebah, maka anak muda ini pun selamat dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Hikmah dari cerita ini adalah,
- Terkadang kita manusia sering usil dan ingin mengganggu orang lain padahal orang tersebut tidak berbuat kesalahan apa - apa terhadap kita.

- Dalam diri lebah ada filosofi yang dapat kita jadikan sebagai pegangan hidup yaitu,
  - Lebah tidak pernah menyerang seseorang jika orang itu tidak mengganggu dia.
  - Sumber makanan lebah selalu dari hal yang baik - baik, yakni saripati bunga.
  - Lebah hanya tahu menghasilkan madu, bukan yang lain.

Artinya adalah... dalam hidup manusia harus bersikap toleran kepada sesama, manusia harus memperhatikan sumber makanannya dan senantiasa berusaha agar hidupnya dapat memberikan manfaat kepada sesama.







 
















Kamis, 07 Juli 2011

Cermin Diri : Agar Kelebihan Tidak Menjadi Malapetaka

Setiap tindakan pasti akan ada balasannya, pohon yang menjulang tinggi suatu saat akan jatuh dan roboh, begitu pula dengan manusia. Tindakan saat ini akan menentukan arah dan perjalanan hidup kita ke depannya.

Manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, kelebihan ada untuk menutupi kekurangan sedangkan kekurangan diciptakan untuk menjadi penyeimbang agar kelebihan yang dimiliki tidak menjadikan si empunya sombong, lupa diri, takabur dan semena - mena.

Sering terjadi, jangankan pada orang lain, mungkin diri kita sendiri sering mengalaminya. Ketika kita berada pada posisi berlebih, kecenderungan untuk melakukan penyimpangan begitu kuat.

Beberapa contoh kecil, ketika dalam posisi miskin dan tidak memiliki apa - apa, banyak suami yang begitu setia dengan istrinya, selingkuh adalah hal yang  tabu baginya. Namun, begitu ia memiliki harta yang lebih, maka ia mulai selingkuh. Saat miskin ia tidak berani melakukannya karena tidak ada peluang. Akibatnya rumah tangga yang mungkin telah bertahun - tahun ia bangun akhirnya harus mengalami kehancuran.

Seorang pegawai ketika belum memegang jabatan di kantornya, ia begitu rajin datang ke kantor, tidak telat, selalu mengerjakan pekerjaannya tepat waktu. Begitu posisinya naik dan telah memegang kendali, terjadi hal sebaliknya. Kerajinannya berkurang, pekerjaannya malah sering terbengkalai, karena menganggap bahwa dengan posisinya yang saat ini ia bisa dengan mudah mengatur semuanya, mengatur bawahannya, kontrol dan kendali tidak lagi ada pada dirinya. Pada saat yang demikian, maka biasanya kehancuran hanya akan menunggu waktu saja. Banyak contoh di sekitar kita, betapa orang ketika memiliki kekuasaan dan wewenang sering lupa diri dan tidak terkendali sehingga menimbulkan berbagai macam pelanggaran, penyelewengan dan penyimpangan.

Seorang anak muda, sering ketika ia belum memiliki pekerjaan, belum memiliki sumber penghasilan, hidupnya begitu teratur, rajin ibadah, rajin membantu orang lain, pergaulannya terkendali. Namun, begitu ia dapat 'menghidupi dan mencukupi' dirinya sendiri, ia berubah, ia terpengaruh. Pola hidup yang selama ini dijalaninya pun perlahan ia tinggalkan, tidak ada lagi kegiatan ibadah, tidak ada lagi waktu untuk membantu orang lain. Hidupnya berubah dan mulai tergelincir pada hal - hal yang negatif. Begitu banyak contoh di sekitar kita, anak muda dan remaja yang hidupnya tergantung pada narkoba dan psikotropika serta penyalahgunaan obat - obatan terlarang lainnya. Hanyut dalam arus pergaulan bebas dan glamournya kehidupan. Ketika tersadar, ternyata dirinya sudah terlampau jauh sehingga sangat sulit lagi untuk kembali kepada kehidupannya yang normal seperti dulu.

Ketika belum apa - apa, banyak orang yang jalan hidupnya baik. Namun begitu sudah memiliki apa - apa, hidupnya berubah. 

Kelebihan yang tidak di dasari pada sikap mental yang kuat sering menjadikan orang terjerumus ke dalam lorong - lorong gelap kehidupan. Semoga kita bisa terhindar !





Persahabatan Bagai Kepompong

Teringat pada sebuah lagu yang cukup terkenal, 'persabatan bagai kepompong', tak semudah untuk menjadi indah, persahabatan adalah memaklumi teman dalam perbedaan.

Persahabatan begitu indah bila kita memiliki kekuatan dan kesabaran untuk menjaganya. Jalinan persahabatan memberikan kekuatan untuk saling menguatkan dalam mengarungi bahtera dan pahit getirnya kehidupan. Secercah cahaya yang ditimbulkan darinya mampu memberikan kekuatan bagi siapapun, sebaliknya retaknya jalinan persahabatan akan meruntuhkan setumpuk harapan dan kenangan - kenangan manis masa lalu.

Mohonlah kepada Tuhan agar engkau memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar agar engkau mampu menjaga jalinan persahabatanmu.

Persahabatan yang langgeng akan tercipta bila dilandasi dengan cinta dan kasih sayang yang tulus murni. Cinta yang hakiki bukan dinilai melalui pujian dan sanjungan, cinta yang hakiki dilalui dengan ujian dan berbagai peristiwa yang menyakitkan yang membuat hati terluka dan menderita. Melalui ujian itulah, Allah membentuk dan melatih kita, bukan pada seberapa besar dan dalamnya luka itu, tetapi pada seberapa besar kekuatan dan kesabaran yang kita miliki untuk menjalani luka dan sakit itu. Kekuatan dan kesabaran yang dihiasi dengan kasih sayang itulah yang akan tetap menguatkan jalinan persahabatan hingga menjadi langgeng.

Sabtu, 02 Juli 2011

Hilangkan Benci Tambahkan Cinta

Saya teringat peristiwa kecil dua hari yang lalu, sedikit lucu namun sebenarnya bisa memberikan pelajaran berharga bila kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang lebih jernih.

Waktu itu saya sedang memperhatikan dua anak kecil yang mana keduanya adalah adik sepupu saya sendiri, mereka tengah asyik bermain, sang kakak yang adalah anak laki - laki sedang bermain mobil - mobilan sementara adiknya yang perumpuan bermain boneka. Dengan gayanya masing - masing mereka tentu sangat menikmati mainannya.

Ketika sedang asiknya bermain, tanpa sengaja sang adik menginjak mainannya sang kakak, mungkin karena kaget sehingga refleks sang kakak mendorong adiknya hingga terjatuh, akibatnya sang adik pun menangis.

Melihat adiknya yang sedang menangis, sang kakak pun seolah - olah tanpa rasa bersalah tetap saja menikmati mainannya. Namun karena makin lama tangisan sang adik tidak berhenti juga, sang kakak pun mendekat dan menarik tangan adiknya untuk berdiri. Saya yang duduk tidak jauh dari mereka tidak bereaksi apa - apa, hingga kemudian saya melihat sang kakak menegur adiknya "Adek berhentlahi menangis...makanya kalo main adek jangan suka ganggu mainannya kakak...". Dalam keadaan masih menangis, sang adik pun menjawab "Adek kan ngga sengaja injak mainannya kakak...". Saya melihat kejadian ini hanya diam dan tersenyum. Keduanya pun kemudian melanjutkan permainannya masing - masing.

Dari kejadian ini, yang ingin saya share adalah terkadang dalam kehidupan sehari - hari kita mengalami benturan dan gesekan dengan orang lain, apakah itu dengan teman, sahabat atau rekan kantor sendiri, yang dari situ kemudian timbul perasaan tidak enak yang berujung timbulnya sifat marah, jengkel, bete, bahkan untuk keadaan yang lebih parah bisa menimbulkan perasaan dendam satu sama lain ( saya dan Anda mungkin pernah mengalami hal seperti ini bukan... ). Entah itu karena teman yang terlalu sering ikut campur dalam urusan kita, atau mungkin karena adanya orang - orang di sekitar kita yang memang sengaja menunjukkan sikap tidak bersahabat dengan kita.

Nah, biasanya dari kejadian seperti ini, kita kemudian jadi memisahkan diri, menghindar dan terkesan tidak mau lagi bersosialisasi lagi dengan mereka. Akibat fatalnya adalah rusaknya hubungan pertemanan atau hubungan kerja yang telah terjalin selama ini.

Hal ini biasanya terjadi karena kita terkadang gengsi, canggung dan terkesan ingin menang sendiri, seolah - olah kejadian ini timbul karena seratus persen kesalahan ada pada orang lain, bukan pada diri kita. Akibatnya, tidak ada mau mengambil inisiatif untuk memperbaiki hubungan kembali.

Kenapa kita tidak mau mencontoh anak tadi, yang punya inisiatif untuk membujuk kembali adiknya sehingga ia bisa berhenti menangis...? Kita terkadang lebih memilih hanyut dalam perasaan 'marah, jengkel'.

Yang dibutuhkan sebenarnya adalah kebesaran hati dan kelapangan jiwa untuk meminta maaf, menghilangkan ego pribadi  masing - masing untuk kemudian berusaha memperbaiki hubungan kembali.

Hal ini tentu tidak dapat terjadi bila perasaan marah, jengkel, bete masih menguasai diri... karena itu....HILANGKAN MARAH, TAMBAHKAN CINTA....!!! 
:-)



Berani Mencoba

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?" "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana saya sanggup?"

"Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?" "Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan  jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan. "Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?" "Naaa, kalau begitu, saya sanggup!" kata jam dengan penuh antusias. Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali.

Cerita ini memberikan renungan kepada kita bahwa, terkadang kita dengan begitu mudahnya menyerah tanpa berani mencoba. Ketidakberanian untuk bertindak pada akhirnya mengahalangi kita untuk memulai dan mengambil langkah awal. Padahal, begitu kita sudah berani memulainya ternyata kita bisa bahkan untuk sesuatu yang semula kita anggap impossible sekalipun.

Jadi... jangan berkata “TIDAK” sebelum Anda pernah mencobanya !

(dari berbagai sumber)

Arti Sebuah Kemenangan


Kemenangan itu bukan semata ketika kita berhasil mengalahkan lawan tangguh dalam sebuah pertandingan atau perlombaan. Pun bukanlah kemenangan sejati ketika kita berhasil mencapai semua impian kita dalam hidup dengan begitu mudah.

Kemenangan yang sejati adalah ketika kita berhasil bangkit dari sebuah keadaan terpuruk.  Kemenangan adalah ketika kita berhasil menghadapi sebuah cobaan dan tantangan dalam hidup. Kemenangan adalah ketika kita berhasil merubah  kegagalan menjadi sebuah keberhasilan.

Coba Anda renungkan ilustrasi berikut, kemenangan manakah yang Anda pilih?

Ilustrasi pertama,
Ada seorang anak SD (Sekolah Dasar), yang lahir dan tumbuh dari keluarga miskin. Karena kemiskinan keluarganya, sang anak pun harus rela ikut membantu ekonomi keluarga, mulai dari bercocok tanam di kebun di belakang rumah, membantu ibu berjualan keliling. Semua pekerjaan itu ia lakukan sebelum dan setelah pulang sekolah. Belum lagi kondisi alam yang keras, sehingga untuk sampai ke sekolah, sang anak harus naik perahu menyeberangi sungai besar, untuk kemudian berjalan kaki kiloan meter jauhnya untuk sampai di sekolahnya. Waktu belajar pun cuma bisa dilakukan di malam hari dalam kondisi yang sangat terbatas karena ketiadaan listrik. Hal ini dialami selama bertahun – tahun lamanya, namun sang anak tetap melaluinya dengan penuh ketegaran dan ketangguhan hatinya. Sampai akhirnya, sang anak dapat menamatkan sekolah dasarnya dengan hasil yang memuaskan, ranking satu lagi di sekolahnya.

Ilustrasi kedua
Ada seorang anak SD (Sekolah Dasar), ia lahir dan tumbuh di tengah – tengah keluarga yang serba berkecukupan. Ia tidak harus lagi memikirkan masalah ekonomi, segalanya tersedia dengan lengkap. Berangkat ke sekolah pun diantar jemput dengan mobil, waktu belajar tesedia cukup, belajarnya pun bisa dilakukan di ruangan yang nyaman, enak dan ber-AC. Sampai akhirnya sang anak pun menamatkan sekolahnya dengan hasil yang memuaskan atau bahkan ranking satu di sekolahnya.
Silahkan anda pilih, ilustasi mana yang menurut anda kemenangan atau kesuksesannya yang lebih berkesan. Anda tentu bisa menganalisanya :)


Ketika Keadaan Menguji Kita

Pernahkah Anda mengalami keadaan terburu – buru, entah karena dead line yang sempit atau karena Anda kesiangan sehingga harus cepat – cepat sampai ke kantor? Namun di tengah jalan anda harus menghadapi kemacetan yang panjang, semua pengendara tidak ada yang mau mengalah, ketika ada celah untuk menyalip, tiba – tiba kendaraan di belakang Anda membunyikan klakson agar Anda cepat melangkah, sementara dari depan kendaraan lain hendak mengambil jalur anda.

Atau pernahkah anda mengalami keadaan, di mana Anda di undang ke suatu acara untuk datang tepat waktu, sehingga Anda pun harus bangun cepat, dandang pagi – pagi agar tidak telat. Namun begitu sampai di tempat acara, ternyata anda adalah orang pertama yang datang. Sebalkah Anda? Marah atau jengkelkah Anda?
Ya, sadar dan yakini saja bahwa Anda sedang diuji oleh keadaan. Itulah salah satu cara Tuhan menguji kita dengan memberikan ‘keadaan’ yang seolah – olah tidak bersahabat, sehingga membuat anda marah, jengkel, sebal dan bete. 

Coba sadari, bahwa rasa marah, jengkel, sebal dan bete itu muncul karena terkadang kita tidak mau kompromi dan bersahabat dengan keadaan yang menimpa kita. Dalam keadaan seperti ini wajar kalau kita terkesan mementingkan diri sendiri. Namun satu yang pasti, bila keinginan kita belum tercapai, tidak ada salahnya kita bersabar, mungkin ada yang salah atau keliru dengan kita. Kita hanya perlu menghadapinya dengan senyuman, walaupun itu rasanya pahit... Hati boleh marah, jengkel, tapi muka harus tetap memancarkan senyum manisnya kan....:-)