Tampilkan postingan dengan label kekayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kekayaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2011

Cinta Dan Waktu

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak : ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan karena ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai dan mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. 
 
Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. ”Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta. ”Aduh! Maaf, Cinta!” kata Kekayaan. “Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini”. Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali.
 
Namun dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik.
 
Tak lama lewatlah Kecantikan. “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta “Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini”, sahut Kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. 
 
Saat itu lewatlah Kesedihan. ”Oh, Kesedihan. Bawalah aku bersamamu”, kata Cinta. ”Maaf Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja...” kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air semakin naik dan akan menenggelamkannya.
 
Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara. ”Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!” Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. ”Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu” kata orang itu. ”Tapi mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman teman yang mengenalku pun enggan menolongku” tanya Cinta heran. ”Sebab” kata orang itu ”Hanya Waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu...”

Kamis, 07 Juli 2011

Cermin Diri : Agar Kelebihan Tidak Menjadi Malapetaka

Setiap tindakan pasti akan ada balasannya, pohon yang menjulang tinggi suatu saat akan jatuh dan roboh, begitu pula dengan manusia. Tindakan saat ini akan menentukan arah dan perjalanan hidup kita ke depannya.

Manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, kelebihan ada untuk menutupi kekurangan sedangkan kekurangan diciptakan untuk menjadi penyeimbang agar kelebihan yang dimiliki tidak menjadikan si empunya sombong, lupa diri, takabur dan semena - mena.

Sering terjadi, jangankan pada orang lain, mungkin diri kita sendiri sering mengalaminya. Ketika kita berada pada posisi berlebih, kecenderungan untuk melakukan penyimpangan begitu kuat.

Beberapa contoh kecil, ketika dalam posisi miskin dan tidak memiliki apa - apa, banyak suami yang begitu setia dengan istrinya, selingkuh adalah hal yang  tabu baginya. Namun, begitu ia memiliki harta yang lebih, maka ia mulai selingkuh. Saat miskin ia tidak berani melakukannya karena tidak ada peluang. Akibatnya rumah tangga yang mungkin telah bertahun - tahun ia bangun akhirnya harus mengalami kehancuran.

Seorang pegawai ketika belum memegang jabatan di kantornya, ia begitu rajin datang ke kantor, tidak telat, selalu mengerjakan pekerjaannya tepat waktu. Begitu posisinya naik dan telah memegang kendali, terjadi hal sebaliknya. Kerajinannya berkurang, pekerjaannya malah sering terbengkalai, karena menganggap bahwa dengan posisinya yang saat ini ia bisa dengan mudah mengatur semuanya, mengatur bawahannya, kontrol dan kendali tidak lagi ada pada dirinya. Pada saat yang demikian, maka biasanya kehancuran hanya akan menunggu waktu saja. Banyak contoh di sekitar kita, betapa orang ketika memiliki kekuasaan dan wewenang sering lupa diri dan tidak terkendali sehingga menimbulkan berbagai macam pelanggaran, penyelewengan dan penyimpangan.

Seorang anak muda, sering ketika ia belum memiliki pekerjaan, belum memiliki sumber penghasilan, hidupnya begitu teratur, rajin ibadah, rajin membantu orang lain, pergaulannya terkendali. Namun, begitu ia dapat 'menghidupi dan mencukupi' dirinya sendiri, ia berubah, ia terpengaruh. Pola hidup yang selama ini dijalaninya pun perlahan ia tinggalkan, tidak ada lagi kegiatan ibadah, tidak ada lagi waktu untuk membantu orang lain. Hidupnya berubah dan mulai tergelincir pada hal - hal yang negatif. Begitu banyak contoh di sekitar kita, anak muda dan remaja yang hidupnya tergantung pada narkoba dan psikotropika serta penyalahgunaan obat - obatan terlarang lainnya. Hanyut dalam arus pergaulan bebas dan glamournya kehidupan. Ketika tersadar, ternyata dirinya sudah terlampau jauh sehingga sangat sulit lagi untuk kembali kepada kehidupannya yang normal seperti dulu.

Ketika belum apa - apa, banyak orang yang jalan hidupnya baik. Namun begitu sudah memiliki apa - apa, hidupnya berubah. 

Kelebihan yang tidak di dasari pada sikap mental yang kuat sering menjadikan orang terjerumus ke dalam lorong - lorong gelap kehidupan. Semoga kita bisa terhindar !