Selasa, 05 April 2011

Kisah Seorang Buruh Bangunan

Ada seorang buruh bangunan yang terkenal karena keuletan, ketekunan serta keahliannya dalam membuat rumah yang indah dan kokoh. Pada suatu hari ia dipanggil oleh seorang kaya untuk bekerja di tempatnya dan membuat rumah sesuai dengan keinginannya. Ia pun bekerja dengan penuh semangat dan dengan segenap jiwanya. Rumah sang majikan pun selesai dan ia sangat puas dengan pekerjaan buruh tersebut. Waktu pun berlalu, telah banyak rumah yang telah diselesaikan oleh buruh ini dengan hasil yang sangat memuaskan.

Hingga pada suatu hari, sang buruh ini dihinggapi perasaan jenuh. Ia lelah dan ingin berhenti daari pekerjaannya sebagai buruh bangunan. Ia merasa dirinya telah tua dan ingin beristirahat dari pekerjaannya. Hingga ia pun mengutarakan keinginannya tersebut kepada majikannya. Oleh sang majikan, buruh ini dilarang berhenti dengan alasan sangat sulit untuk mencari buruh sehebat dia. Namun, buruh ini tetap ngotot untuk berhenti bekerja. Sang majikan pun tidak dapat berbuat apa - apa. Ia pun mengisinkan buruh tersebut untuk berhenti dengan satu catatan, majikan ini mohon untuk dibuatkan satu lagi rumah untuk terakhir kalinya. Sang buruh pun menyanggupi permintaan majikannya.

Rumah yang diminta oleh majikan pun mulai dikerjakan, namun tidak  seperti biasanya, buruh ini bekerja tanpa semangat yang biasanya ia perlihatkan. Sentuhan - sentuhan tangan kreatifnya pun tidak nampak. Setelah beberapa lamanya, rumah pun telah selesai dikerjakan. Karena merasa tugasnya untuk membuat satu rumah telah selesai, sang buruh pamitan kepada majikannya. namun sebelum ia pergi, sang majikan kemudian berkeliling melihat rumah yang telah selesai dikerjakan. Sang majikan terlihat tersenyum dan kemudian memberikan kunci rumah tersebut kepada sang buruh. Buruh ini pun kaget, namun dengan serta merta sang majikan berkata kalau rumah yang baru saja selesai dikerjakannya ini bukanlah untuk dirinya, tetapi rumah tersebut akan diberikan kepada sang buruh. Mengetahui hal tersebut, betapa menyesalnya sang buruh, ia baru tersadar kalau ternyata rumah yang ia kerjakan dengan asal -asalan ini akan dihadiahkan kepadanya.

Dari cerita ini tersebut kita dapat mengambil suatu pelajaran bahwa apapun yang kita kerjakan hendaknya dilakukan dengan sepenuh hati, totalitas serta mengerahkan segala kemampuan terbaik yang dimiliki. Karena setiap pekerjaan yang dilakukan hasilnya pasti akan kembali kepada diri sendiri.

Kamis, 17 Maret 2011

Si Syukur dan Si Kufur

Ada sebuah cerita, pada suatu hari datanglah seorang pengemis yang sudah tua rentah ke rumah seorang kaya raya. Ketika sampai di depan pintu rumah, pengemis lalu mengetuk pintu dan memberi salam, ''Assalamu Alaikum', kata pengemis. Dari dalam rumah, orang kaya lalu memerintahkan pembantunya untuk melihat siapa tamu yang datang. Ketika melihat orang yang di depan pintu, sang pembantu kembali masuk dan menemui majikannya. "Tuan, ada pengemis di depan yang ingin bertemu tuan". Sang majikan pun keluar, "Siapa kamu? tanya orang kaya kepada pengemis ini. "Berilah saya sepiring nasi tuan, dari kemarin saya belum pernah makan", kata pengemis. "Saya tidak punya sepiring nasi", jawab orang kaya. "Kalau begitu, cukup segelas air putih tuan, saya sangat haus", "Saya juga tidak punya segelas air putih", jawab kembali orang kaya.

Dalam hati si pengemis berkata, 'Kalau dalam rumah sebesar dan semewah ini tidak ada sepiring nasi dan segelas air putih, lalu kenapa tuan tidak ikut saja mengemis seperti saya?, tuan adalah orang miskin  sama seperti saya", kata pengemis.

Dalam cerita ini, kita dapat mengambil suatu hikmah bahwasannya kekayaan yang sebenarnya adalah ''kekayaan Hati" atau kaya hati. Begitu banyak orang yang berkelimpahan secara harta dan materi namun selalu merasa kurang dan tidak cukup. Akibatnya, hidupnya tidak tenang, tidak tenteram karena dalam hidupnya ia terjebak dalam satu lingkaran yaitu menghalalkan segala macam cara demi mengumpulkan harta dan materi sebanyak - banyaknya. Adalah benar bahwa tanpa harta, orang mungkin sulit untuk bahagia, tetapi harta semata bukan jaminan bahwa orang akan mendapatkan kebahagian. Adalah fakta bahwa, begitu banyak orang yang hidupnya kekurangan harta namun hidupnya merasa bahagia, tenang dan tenteram. 

Allah SWT menempatkan kebahagian dihati setiap hambanya. Bahagia dapat hadir di hati orang kaya, pun bahagia juga dapat bertahta di hati orang miskin (miskin harta). Kebahagian lahir dari sikap bagaimana kita memperlakukan pemberian Allah SWT tersebut. Harta dan materi memberikan kebahagian bila jatuh di hati orang - orang yang bersyukur. Sebaliknya, harta dan materi akan mendatangkan sengsara dan malapetaka bila jatuh di tangan orang - orang yang berhati Kufur kepada nikmat Allah SWT.

Maha adil dan bijaksananya Allah SWT, yang menempatkan kebahagian itu pada hati hamba - hambanya yang senantiasa bersyukur kepadanya, bukan meletakkannya pada harta benda semata. Yang ideal tentunya adalah memiliki harta benda yang cukup dan mempunyai hati yang pandai bersyukur atas nikmat dan anugerah Allah SWT. Sehingga harta itu pun akan semakin memberikan mamfaat bagi diri dan sesama.




Rabu, 16 Februari 2011

Hasrat Untuk Berubah

Seorang bapak tua yang tengah terbaring dalam keadaan menunggu saat - saat terakhir dalam hidupnya. Ketika masih muda, dengan semangat, hasrat dan tekad yang dimilikinya, ia berjuang untuk merubah dunia. Namun apa yang ia harapkan, ternyata dunia tidak berubah. Ia pun menurunkan hasratnya dari ingin mengubah dunia, menjadi hanya ingin mengubah negerinya, namun negerinya pun tidak berubah seperti yang ia harapkan. Seiring dengan berjalannya waktu serta pertambahan usianya, agar tidak sia - sia, ia pun menurunkan kembali hasratnya, dari mengubah negerinya menjadi hasrat untuk mengubah keluarganya. Lagi - lagi keinginannya tersebut tidak berhasil, keluarganya tidak mau berubah.

Kini, di saat ia tengah terbaring tak berdaya, ia pun tersadar, andai waktu itu ia mengubah dirinya sendiri, memberikan contoh dan teladan yang baik, mungkin saat itu keluarganya bisa berubah. Dan dari keluarganya mungkin saja bisa mengubah negerinya, dan dengan demikian maka dunia pun tidak mustahil bisa ia ubah menjadi lebih baik.

Ternyata,
Untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik, maka semuanya harus dimulai dengan mengubah diri sendiri menjadi lebih baik terlebih dahulu. Memberi contoh dan teladan adalah lebih baik ketimbang sejuta aksi dan orasi yang tanpa makna dan arti.

Air Mata Kehidupan

Seorang anak pernah bertanya kepada ibunya, "Ibu, kenapa ibu menangis?", sang ibu menjawab, "Karena ibu adalah wanita anakku". Sang anak pun berlalu tanpa mengerti apa maksud perkataan ibunya. Karena tidak puas dengan jawaban sang ibu, anak ini pun bertanya kepada ayahnya, "Ayah, mengapa ibu menangis?" Ayahnya menjawab, "Wanita memang suka menangis anakku". Lagi - lagi sang anak tidak puas dengan jawaban dari ayahnya.

Hingga pada suatu malam, dalam tidurnya sang anak bermimpi dan bertanya kepada Tuhan. Tuhan, "Mengapa wanita mudah sekali menangis?". Dalam mimpi sang anak, Tuhan menjawab, "Wanita kuciptakan sebagai mahkluk yang sangat utama, ia kuciptakan dari tulang rusuk agar dapat menahan beban dunia dan seluruh isinya, dengan itu pula ia dapat menahan kepala bayi yang sedang tertidur dalam pangkuannya".
"Pada wanita juga kuberikan rahim dan kekuatan untuk melahirkan, walau sering kali ia menerima cacian dan cercaan dari anaknya sendiri". "Pada wanita kuberikan ia kesabaran untuk merawat dan mengasuh keluarganya, walau ia terkadang tersakiti". Tuhan kembali melanjutkan "Kuberikan pula pada wanita perasaan yang peka dan kasih sayang, untuk mencintai suaminya dan anaknya dalam situasi dan kondisi apapun serta sampai kapanpun, walau ia sendiri sering dilupakan dan disakiti oleh anaknya". "Pada wanita pula kuberikan kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan penyadaran dan pengertian kepada suaminya, bahwa suami yang baik itu adalah suami yang tidak melukai hati istrinya".

"Dan pada akhirnya, pada wanita telah kuberikan ia dengan air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah pemberianku yang khusus kepada wanita agar dapat digunakan kapanpun. Hanya ini pulalah kelemahan yang dimiliki wanita, walau sebenarnya air mata yang dikeluarkannya adalah air mata kehidupan".

Anak ini pun terbangun dari mimpinya, tanpa sadar air matanya telah berurai, sang anak pun teringat akan kebaikan dan kasih sayang yang telah diberikan oleh ibunya, namun sampai sekarang ia menyadari ,bahwa ia belum sempat mengucapkan terima kasih secara sungguh - sungguh kepada sang ibu.

Semoga cerita ini bisa memberikan penyadaran kepada kita, bahwa ibu adalah bukti nyata akan adanya kasih sayang seorang wanita yang tak pernah hilang sampai kapan pun, di mana pun dan dalam keadaan apapun. Ibu adalah "Air Kehidupan" kita.

Selasa, 15 Februari 2011

Hilangkan Penundaan : Selalu Ada Hari Esok

Menunda adalah salah satu hal paling mudah untuk dilakukan dan juga merupakan hal paling sering kita lakukan. Hingga pada akhirnya sifat ini sangat sulit untuk dihilangkan, selalu saja ada alasan untuk menunda dan menunda suatu pekerjaan yang seharusnya sudah harus kita kerjakan.

Alasan dari penundaan untuk setiap orang bervariasi misalnya saja kita sering menunda karena kita merasa bahwa pekerjaan itu terlalu sulit dan berat untuk diakukan, penundaan juga terkadang karena kita merasa takut akan akibat dari apa yang akan kita lakukan.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk menyingkarkan kebiasaan menunda ini? Tentu kesadaran akan tidak bergunanya sifat ini serta seberapa besar hasrat dan keinginan kita akan pekerjaan yang akan dilakukan, sangat menentukan. Beberapa hal dapat kita lakukan adalah :

1. Lakukanlah
            Apapun pekerjaan yang akan kita lakukan, agar penundaan dapat kita minimalisir maka lakukan dan ambillah langkah awal. Biasanya penundaan itu muncul karena pikiran dan anggapan negatif yang telah lebih dahulu muncul, padahal sebenarnya ketika kita telah berani memulainya, ternyata pekerjaan itu tidak sesulit dan seberat yang kita pikirkan.

2. Urai pekerjaan besar menjadi pekerjaan - pekerjaan kecil
            Penundaan juga terkadang kita lakukan karena tidak berani melakukan pekerjaan yang nampaknya besar atau sulit untuk kita lakukan. Agar hal bisa di atasi, maka uraikanlah pekerjaan itu menjadi beberapa bagian hingga menjadi pekerjaan - pekerjaan kecil yang dapat kita kendalikan. Ketika Anda harus membersihkan sebuah ruangan yang berdebu dengan sampah dan tumpukan berbagai barang yang berserakan di mana - mana. Maka melihatnya saja tentu sudah menyiutkan semangat kita, tapi coba mulailah dengan membersihkan sampahnya terlebih dahulu, setelah itu baru menata barang yang tadi berserakan. Dengan ini maka tentunya pekerjaan itu akan terasa lebih ringan dan mudah untuk dilakukan.

3. Abaikan gangguan - gangguan yang ada
            Ketika menghadapi pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Tidak ada salahnya apabila Anda mengabaikan hal - hal kecil yang dapat mengganggu, panggilan telpon atau SMS biasanya dapat menyebabkan konsentrasi menjadi buyar, sehingga tanpa pikir panjang, pekerjaan yang tengah  dilakukan lansung Anda tinggalkan. Lagi  - lagi pekerjaan Anda yang jadi berantakan dan tertunda.

4. Fokus pada rencana
             Pastikan Anda memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah mulai dikerjakan. Karena jika Anda tidak memiliki waktu yang cukup, sementara pekerjaan Anda belum selesai sehingga harus terhenti, biasanya untuk memulainya kembali agak susah. Satu hal lagi yang harus diperhatikan, melakukan pekerjaan dengan terburu - buru, bukan hanya bisa mengacaukan namun hal tersebut malah akan menyebabkan Anda stres. Istirahat untuk sesaat dan tetaplah fokus untuk menyelesaikan pekerjaan Anda.

Senin, 14 Februari 2011

Amarah dan Bahayanya

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang sangat pemarah. Untuk mengurangi rasa marahnya, sang ayah memberikan sekantong paku kepada pemuda ini, dan menyuruhnya untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah mereka setiap kali ia marah.

Pada hari pertama, karena sifat pemarahnya, pemuda ini telah memakukan 48 buah paku di pagar. Lalu pada hari berikutnya, secara bertahap jumlahnya makin berkurang. Pemuda ini pun menyadari kalau menahan amarahnya lebih mudah ia lakukan ketimbang harus memakukan paku di pagar. Hingga pada akhirnya, ia pun telah dapat menguasai amarahnya dan menjadi lebih sabar dari sebelumnya.

Ayahnya pun kemudian menyuruh anak muda ini untuk mencabut setiap paku yang telah ia pakukan di pagar, dan dalam beberapa hari paku - paku tersebut telah ia cabut semuanya. Sang ayah kemudian menuntun anaknya ke pagar dan mengatakan, "Kamu telah berhasil anakku, tapi lihatlah lubang - lubang yang ada di pagar ini, pagar ini tidak akan pernah bisa kembali seperti semula, lubang ini akan tetap ada. Anakku, ketika kamu mengatakan sesuatu dalam keadaan marah, maka kata - katamu akan meninggalkan bekas di hati orang lain seperti halnya lubang yang ada di pagar ini". Sang ayah pun melanjutkan, "Kamu bisa saja meminta maaf atas kemarahanmu, tetapi tidak peduli berapa pun kamu minta maaf, bekas luka itu akan tetap ada".

Semoga kisah ini memberikan inspirasi dan penyadaran kepada kita agar sebisa mungkin mengendalikan kata - kata terlebih lagi jika dalam keadaan marah. Karena luka dan sakit yang ditimbulkan di hati orang yang kita sakiti akan sangat sulit untuk disembuhkan. Seperti kata orang bijak, luka karena pedang sangatlah mudah di cari obatnya, tetapi luka hati karena kata - kata, kemana akan di cari obatnya?.

Minggu, 13 Februari 2011

Pasangan Pilihan Tuhan

Suatu malam seorang anak muda berdoa kepada Tuhan, " Tuhan, berikanlah aku jodoh dan pasangan yang baik hati, jujur, lemah lembut, mudah mengampuni, hangat, pintar, penuh pengertian, ramah dan humoris". Doa mana setiap saat selalu dipanjatkan oleh anak muda tersebut. Hingga pada suatu malam di saat ia berdoa dalam hatinya, ia mendengar suara Tuhan, " Anak muda, saya tidak dapat mengabulkan permintaanmu ", "kenapa Tuhan", tanya anak muda tersebut. Tuhan menjawab, " Aku ini Tuhan, yang maha adil dan akan selalu berlaku adil, dan Aku adalah kebenaran dan segala yang Ku lakukan adalah benar ". Anak muda ini kemudian berkata, " Tuhan, aku ini belum mengerti mengapa Engkau tidak dapat mengabulkan permintaanku". Tuhan menjawab, " Anak muda, Aku akan jelaskan kepadamu, adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran apabila Aku memberikan sesuatu yang tidak pantas dan tidak sesuai dengan engkau". Tidaklah adil bagiku untuk memberikan kepadamu pasangan yang jujur sementara engkau sendiri belum dapat berkata jujur, atau pasangan yang lemah lembut sementara engkau sendiri masih sering berlaku kasar, juga tidaklah adil bagiku memberikan pasangan yang mudah mengampuni, sementara engkau sendiri masih diliputi oleh dendam, dengki dan iri hati. Pun bukanlah keadilan dan kebenaran bagiku, untuk memberimu pasangan yang ramah dan penuh pengertian, sementara engkau sendiri masih sering berlaku kasar dan egois ". 

" Anak muda ", kata Tuhan, " Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu pasangan yang akan membuatmu menemukan kualitas yang engkau cari, daripada Aku memberikan kepadamu pasangan yang sudah memiliki semuanya itu ". Aku akan memberimu pasangan dari tulangmu dan dagingmu sendiri, sehingga dengannya engkau akan melihat dirimu sendiri dalam dirinya, sehingga kalian berdua akan menjadi satu.

Hikmah dari cerita ini adalah bahwa manusia diciptakan berpasangan agar dapat saling memahami dan menyesuaikan diri dan saling menyenangkan satu sama lain. Tuhan memberikan sesuatu kepada kita sesuai dengan maqam (tingkatan kita di hadapan Tuhan) dan derajat kita.