Teringat pada sebuah lagu yang cukup terkenal, 'persabatan bagai kepompong', tak semudah untuk menjadi indah, persahabatan adalah memaklumi teman dalam perbedaan.
Persahabatan begitu indah bila kita memiliki kekuatan dan kesabaran untuk menjaganya. Jalinan persahabatan memberikan kekuatan untuk saling menguatkan dalam mengarungi bahtera dan pahit getirnya kehidupan. Secercah cahaya yang ditimbulkan darinya mampu memberikan kekuatan bagi siapapun, sebaliknya retaknya jalinan persahabatan akan meruntuhkan setumpuk harapan dan kenangan - kenangan manis masa lalu.
Mohonlah kepada Tuhan agar engkau memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar agar engkau mampu menjaga jalinan persahabatanmu.
Persahabatan yang langgeng akan tercipta bila dilandasi dengan cinta dan kasih sayang yang tulus murni. Cinta yang hakiki bukan dinilai melalui pujian dan sanjungan, cinta yang hakiki dilalui dengan ujian dan berbagai peristiwa yang menyakitkan yang membuat hati terluka dan menderita. Melalui ujian itulah, Allah membentuk dan melatih kita, bukan pada seberapa besar dan dalamnya luka itu, tetapi pada seberapa besar kekuatan dan kesabaran yang kita miliki untuk menjalani luka dan sakit itu. Kekuatan dan kesabaran yang dihiasi dengan kasih sayang itulah yang akan tetap menguatkan jalinan persahabatan hingga menjadi langgeng.
Kamis, 07 Juli 2011
Sabtu, 02 Juli 2011
Hilangkan Benci Tambahkan Cinta
Saya teringat peristiwa kecil dua hari yang lalu, sedikit lucu namun sebenarnya bisa memberikan pelajaran berharga bila kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang lebih jernih.
Waktu itu saya sedang memperhatikan dua anak kecil yang mana keduanya adalah adik sepupu saya sendiri, mereka tengah asyik bermain, sang kakak yang adalah anak laki - laki sedang bermain mobil - mobilan sementara adiknya yang perumpuan bermain boneka. Dengan gayanya masing - masing mereka tentu sangat menikmati mainannya.
Ketika sedang asiknya bermain, tanpa sengaja sang adik menginjak mainannya sang kakak, mungkin karena kaget sehingga refleks sang kakak mendorong adiknya hingga terjatuh, akibatnya sang adik pun menangis.
Melihat adiknya yang sedang menangis, sang kakak pun seolah - olah tanpa rasa bersalah tetap saja menikmati mainannya. Namun karena makin lama tangisan sang adik tidak berhenti juga, sang kakak pun mendekat dan menarik tangan adiknya untuk berdiri. Saya yang duduk tidak jauh dari mereka tidak bereaksi apa - apa, hingga kemudian saya melihat sang kakak menegur adiknya "Adek berhentlahi menangis...makanya kalo main adek jangan suka ganggu mainannya kakak...". Dalam keadaan masih menangis, sang adik pun menjawab "Adek kan ngga sengaja injak mainannya kakak...". Saya melihat kejadian ini hanya diam dan tersenyum. Keduanya pun kemudian melanjutkan permainannya masing - masing.
Dari kejadian ini, yang ingin saya share adalah terkadang dalam kehidupan sehari - hari kita mengalami benturan dan gesekan dengan orang lain, apakah itu dengan teman, sahabat atau rekan kantor sendiri, yang dari situ kemudian timbul perasaan tidak enak yang berujung timbulnya sifat marah, jengkel, bete, bahkan untuk keadaan yang lebih parah bisa menimbulkan perasaan dendam satu sama lain ( saya dan Anda mungkin pernah mengalami hal seperti ini bukan... ). Entah itu karena teman yang terlalu sering ikut campur dalam urusan kita, atau mungkin karena adanya orang - orang di sekitar kita yang memang sengaja menunjukkan sikap tidak bersahabat dengan kita.
Nah, biasanya dari kejadian seperti ini, kita kemudian jadi memisahkan diri, menghindar dan terkesan tidak mau lagi bersosialisasi lagi dengan mereka. Akibat fatalnya adalah rusaknya hubungan pertemanan atau hubungan kerja yang telah terjalin selama ini.
Hal ini biasanya terjadi karena kita terkadang gengsi, canggung dan terkesan ingin menang sendiri, seolah - olah kejadian ini timbul karena seratus persen kesalahan ada pada orang lain, bukan pada diri kita. Akibatnya, tidak ada mau mengambil inisiatif untuk memperbaiki hubungan kembali.
Kenapa kita tidak mau mencontoh anak tadi, yang punya inisiatif untuk membujuk kembali adiknya sehingga ia bisa berhenti menangis...? Kita terkadang lebih memilih hanyut dalam perasaan 'marah, jengkel'.
Yang dibutuhkan sebenarnya adalah kebesaran hati dan kelapangan jiwa untuk meminta maaf, menghilangkan ego pribadi masing - masing untuk kemudian berusaha memperbaiki hubungan kembali.
Hal ini tentu tidak dapat terjadi bila perasaan marah, jengkel, bete masih menguasai diri... karena itu....HILANGKAN MARAH, TAMBAHKAN CINTA....!!!
:-)
Berani Mencoba
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?" "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana saya sanggup?"
"Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?" "Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan. "Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?" "Naaa, kalau begitu, saya sanggup!" kata jam dengan penuh antusias. Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali.
Cerita ini memberikan renungan kepada kita bahwa, terkadang kita dengan begitu mudahnya menyerah tanpa berani mencoba. Ketidakberanian untuk bertindak pada akhirnya mengahalangi kita untuk memulai dan mengambil langkah awal. Padahal, begitu kita sudah berani memulainya ternyata kita bisa bahkan untuk sesuatu yang semula kita anggap impossible sekalipun.
Jadi... jangan berkata “TIDAK” sebelum Anda pernah mencobanya !
(dari berbagai sumber)
Arti Sebuah Kemenangan
Kemenangan itu bukan semata ketika kita berhasil mengalahkan lawan tangguh dalam sebuah pertandingan atau perlombaan. Pun bukanlah kemenangan sejati ketika kita berhasil mencapai semua impian kita dalam hidup dengan begitu mudah.
Kemenangan yang sejati adalah ketika kita berhasil bangkit dari sebuah keadaan terpuruk. Kemenangan adalah ketika kita berhasil menghadapi sebuah cobaan dan tantangan dalam hidup. Kemenangan adalah ketika kita berhasil merubah kegagalan menjadi sebuah keberhasilan.
Coba Anda renungkan ilustrasi berikut, kemenangan manakah yang Anda pilih?
Ilustrasi pertama,
Ada seorang anak SD (Sekolah Dasar), yang lahir dan tumbuh dari keluarga miskin. Karena kemiskinan keluarganya, sang anak pun harus rela ikut membantu ekonomi keluarga, mulai dari bercocok tanam di kebun di belakang rumah, membantu ibu berjualan keliling. Semua pekerjaan itu ia lakukan sebelum dan setelah pulang sekolah. Belum lagi kondisi alam yang keras, sehingga untuk sampai ke sekolah, sang anak harus naik perahu menyeberangi sungai besar, untuk kemudian berjalan kaki kiloan meter jauhnya untuk sampai di sekolahnya. Waktu belajar pun cuma bisa dilakukan di malam hari dalam kondisi yang sangat terbatas karena ketiadaan listrik. Hal ini dialami selama bertahun – tahun lamanya, namun sang anak tetap melaluinya dengan penuh ketegaran dan ketangguhan hatinya. Sampai akhirnya, sang anak dapat menamatkan sekolah dasarnya dengan hasil yang memuaskan, ranking satu lagi di sekolahnya.
Ilustrasi kedua
Ada seorang anak SD (Sekolah Dasar), ia lahir dan tumbuh di tengah – tengah keluarga yang serba berkecukupan. Ia tidak harus lagi memikirkan masalah ekonomi, segalanya tersedia dengan lengkap. Berangkat ke sekolah pun diantar jemput dengan mobil, waktu belajar tesedia cukup, belajarnya pun bisa dilakukan di ruangan yang nyaman, enak dan ber-AC. Sampai akhirnya sang anak pun menamatkan sekolahnya dengan hasil yang memuaskan atau bahkan ranking satu di sekolahnya.
Silahkan anda pilih, ilustasi mana yang menurut anda kemenangan atau kesuksesannya yang lebih berkesan. Anda tentu bisa menganalisanya :)
Ketika Keadaan Menguji Kita
Pernahkah Anda mengalami keadaan terburu – buru, entah karena dead line yang sempit atau karena Anda kesiangan sehingga harus cepat – cepat sampai ke kantor? Namun di tengah jalan anda harus menghadapi kemacetan yang panjang, semua pengendara tidak ada yang mau mengalah, ketika ada celah untuk menyalip, tiba – tiba kendaraan di belakang Anda membunyikan klakson agar Anda cepat melangkah, sementara dari depan kendaraan lain hendak mengambil jalur anda.
Atau pernahkah anda mengalami keadaan, di mana Anda di undang ke suatu acara untuk datang tepat waktu, sehingga Anda pun harus bangun cepat, dandang pagi – pagi agar tidak telat. Namun begitu sampai di tempat acara, ternyata anda adalah orang pertama yang datang. Sebalkah Anda? Marah atau jengkelkah Anda?
Ya, sadar dan yakini saja bahwa Anda sedang diuji oleh keadaan. Itulah salah satu cara Tuhan menguji kita dengan memberikan ‘keadaan’ yang seolah – olah tidak bersahabat, sehingga membuat anda marah, jengkel, sebal dan bete.
Coba sadari, bahwa rasa marah, jengkel, sebal dan bete itu muncul karena terkadang kita tidak mau kompromi dan bersahabat dengan keadaan yang menimpa kita. Dalam keadaan seperti ini wajar kalau kita terkesan mementingkan diri sendiri. Namun satu yang pasti, bila keinginan kita belum tercapai, tidak ada salahnya kita bersabar, mungkin ada yang salah atau keliru dengan kita. Kita hanya perlu menghadapinya dengan senyuman, walaupun itu rasanya pahit... Hati boleh marah, jengkel, tapi muka harus tetap memancarkan senyum manisnya kan....:-)
Jumat, 10 Juni 2011
Orang Bertaqwa : Rezekinya Datang Dengan Cara yang tak Disangka - Sangka
Sebagai orang beriman, kata Taqwa telah sering kita dengar. Taqwa adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti takut, kata 'Taqwa' adalah kata yang ditujukan hanya kepada Allah SWT. Jadi orang yang bertaqwa adalah orang yang takut kepada Allah, yang tanda ketakutannya dibuktikan dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Dalam hal masalah duniawi atau rezeki, Allah telah menjamin akan memenuhi dan mencukupkan kebutuhan hambanya yang beriman dan bertaqwa kepadanya. Berikut kisah teladan yang di contohkan oleh salah seorang sahabat sekaligus menantu dari Rasulullah SAW, yaitu Sayyidina Ali RA.
Pernah suatu ketika Ali berjalan di tengah pasar, tiba-tiba datang seorang menghampirinya dan meminta kepada Ali untuk menjualkan kambingnya seharga 3 dirham. Tidak lama setelah itu, datanglah seorang pembeli yang menawar kambing tersebut seharga 30 dirham. 'Kambing ini sangat bagus, saya ingin membeli kambing ini 30 dirham', kata pembeli. 'Saya tidak menjual kambing ini seharga 30 dirham, saya hanya mau menjualnya seharga 3 dirham', kata Sayyidina Ali. 'Tidak, saya mau membelinya 30 dirham, kambing ini sangat bagus', kata kembali si pembeli. Akhirnya, setelah agak lama bertemu, disepakatilah kambing itu dibeli dengan harga 30 dirham.
Setelah kambing itu terjual, berselang beberapa lama kemudian, datanglah sang pemilik kambing. 'Ali, bagaimana kambingnya, sudah terjual?' tanya si pemilik kambing. 'Sudah, ini hasilnya, 30 dirham', kata Ali. Karena Ali adalah orang yang bertaqwa, maka keseluruhan harga kambing yang 30 dirham tersebut, ia serahkan kepada pemilik kambing. 'Ali, silahkan kamu ambil semua harga kambing itu'. Ali kemudian terdiam dan bingung dengan sikap pemilik kambing tersebut. 'Kamu ini sebenarnya siapa?' tanya Ali. 'Saya adalah Malaikat yang sengaja diutus oleh Allah untuk turun ke bumi dan menyerahkan rezekimu Ali, dan yang membeli kambing itu tadi tiada lain adalah saya juga', kata orang tersebut.
Inilah salah satu contoh nyata bagaimana Allah SWT memberikan rezeki kepada hamba - hambanya yang beriman dan bertaqwa kepadanya. Rezeki orang bertaqwa datang dari tempat dan dengan cara yang tak disangka - sangka.
Rabu, 08 Juni 2011
Ketika Cinta Terurai Menjadi Perbuatan
Kulitnya kehitaman. Wajahnya jauh dari cantik. Usianya tak bisa lagi dibilang muda. Waktu pertama kali masuk ke rumah perempuan itu, hampir saja ia percaya ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu apapun risikonya.
Suatu saat perempuan itu berkata padanya, "Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari perempuan idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri." Tapi lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."
Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, "Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku.
Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan ketidakrupawanan wajah dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."
Begitulah cinta, ketika ia terurai jadi perbuatan. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati... terkembang dalam kata... terurai dalam perbuatan...
Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata...
Kalau cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan. Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati adalah memberi tanpa henti.
Hubungan bisa bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti.
Langganan:
Postingan (Atom)
