“Alangkah indahnya bulan Ramadhan, Siangnya bernuansa puasa, menahan diri dari nafsu dunia, makan, minum, dan bersetubuh di siang hari. Sementara malamnya khusyuk dalam ibadah lail, berdzikir, dan membaca Al Quran".
Namun saya heran, katanya Ramadhan adalah bulan untuk mengendalikan hawa nafsu, tetapi mengapa justru ketika bulan Ramadhan tingkat konsumsi masyarakat meningkat tajam?. Bukankah seharusnya di bulan ini kita semakin hemat, semakin sederhana dalam urusan dunia, minimal dalam urusan makan minum dan pakaian. Lalu nafsu apakah sebenarnya yang dikendalikan jika kita hanya memindahkan makan pagi dan siang menjadi makan waktu berbuka dan sahur? Yang lebih ironis lagi, ketika waktu berbuka tiba seakan tidak ada lagi pengendalian diri, kita kembali bebas untuk melakukan semuanya semau kita. Rutinitas keduniaan yang sempat 'ter-cancel' di siang hari, begitu magrib tiba semuanya seakan telah bebas untuk kita lakukan kembali. Di mana makna puasa yang telah kita lakukan di siang harinya?
Kalau di dalam bulan Ramadhan saja, makna puasa tidak muncul dalam diri kita, maka bagaimana lagi di luar bulan Ramadhan nanti? Masih adakah kegiatan ibadah, masih adakah bacaan Qur'an, zikir, bertasbih dan amalan - amalan lainnya?
Sesungguhnya, bulan ramadhan adalah bulan training, bulan untuk melatih diri. Berhasil tidaknya kita dalam menjalani 'latihan' Ramadhan, hasilnya akan terlihat nanti di luar bulan Ramadhan. Jika kegiatan dan rutinitas ibadah dapat tetap kita pertahankan dan bahkan meningkat di luar bulan Ramadhan, maka SELAMAT ! kita telah berhasil menjalani 'latihan' Ramadhan. Sebaliknya, jika ibadah kita setelah bulan Ramadhan menunjukkan penurunan, maka berarti kita adalah orang yang gagal menjalani 'latihan' dan tempaan Ramadhan.
Marhaban Ya Ramadhan...
